ANTIHISTAMIN

Antihistamin adalah obat atau komponen obat yang berfungsi untuk menghalangi kerja zat histamin dan dipakai khususnya untuk mengobati alergi. Antihistamin biasa digunakan untuk mengobati rhinitis, alergi musiman, reaksi alergi akibat sengatan serangga, pruritus dengan gejala gatal, dan urtikaria atau biduran, alergi mata, dan alergi makanan. Selain itu, antihistamin juga bisa digunakan sebagai obat darurat untuk mengatasi anafilaksis (anafilaktik) atau reaksi alergi yang tergolong berat dan mematikan. Tidak hanya alergi, antihistamin juga kerap digunakan untuk mengatasi gejala mual atau muntah yang biasanya diakibatkan oleh mabuk kendaraan.
Histamin dapat menimbulkan efek jika berinteraksi dengan reseptor histaminergik, yaitu reseptor H1, H2, dan H3. Interaksi histamin dengan reseptor H1 menyebabkan interaksi otot polos usus dan bronki, meningkatkan permeabilitas vaskular dan meningkatkan sekresi usus, yang dihubungkan dengan peningkatan cGMP dalam sel. Interaksi dengan reseptor H1 juga menyebabkan vasodilatasi arteri sehingga permeable terhadap cairan dan plasma protein yang menyebabkan sembab, pruritik, dermatitis dan urtikaria. Efek ini di blok oleh antagonis-1. Interaksi histamin dengan reseptor H2 dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan kecepatan kerja jantung. Produksi asam lambung di sebabkan penurunan cGMP dalam sel dan peningkatan cAMP. Peningkatan sekresi asam lambung dapat menyebabkan tukak lambung. Efek ini di blok oleh antagonis H2. Reseptor H3 adalah resptor histamin yang baru di ketemukan pada tahun 1987 oleh arrange dan kawan-kawan, terletak pada ujung syaraf jaringan otak dan jaringan perifer yang mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi lain dan peradangan. Efek ini di blok antagonis H3.
Turunan Kolamin (eter aminoalkil)
Difenhidramin HCl (benadryl), merupakan antihistamin kuat yang mempunyai efek sedatif dan antikolinergik,Senyawa ini digunakan untuk pengobatan berbagaia reaksi alergi seperti pruritik,urtikaria,ekzem,dermatitis atopik,rhinitis,untuk antipasmodik (antikolinergik),antiemetik dan obat batuk. Difenhidramin diikat oleh plasma protein 80 -98%,kadar plasma tertinggi dicapai 2 – 4 jam setelah pemberian oral,dengan waktu paro plasma ± 9 jam.
Diphenhydramine adalah salah satu antihistamin yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala-gejala alergi dan flu, misalnya hidung mampet atau beringus, bersin-bersin, mata berair, mata atau hidung yang gatal. Obat ini bekerja dengan cara menghalangi kinerja senyawa histamin alami tubuh yang menyebabkan munculnya gejala alergi. Selain gejala alergi, obat diphenhydramine juga dapat digunakan untuk menekan batuk, menangani mabuk perjalanan, serta sebagai obat tidur. Diphenhydramine tersedia dalam berbagai merek dan dapat dibeli secara bebas di apotek. Anak-anak di bawah 12 tahun dilarang mengonsumsi obat ini.
*      Efek samping
Diphenhydramine berpotensi menyebabkan efek samping, sama seperti semua obat. Beberapa efek samping di antaranya yang mungkin terjadi saat mengonsumsi antihistamin ini adalah:
§  Mengantuk.
§  Pusing atau sakit kepala.
§  Lelah.
§  Mulut kering.
§  Sulit buang air kecil.
*      Dosis
Untuk reaksi alergi
§  25-50 mg peroral setiap 6-8 jam jangan melebihi 300 mg/hari
§  10-50 mg (tidak lebih dari 100 mg) IV/IM setiap 4-6 jam, jangan melebihi 400 mg/hari
Turunan etilendiamin
Obat-obat kelompok ini umumnya memiliki daya sedative yang lebih ringan
  • ·         Antazolin: fenazolin, antistin
Daya antihistaminnya kurang kuat tetapi, tidak merangsang selaput lendir. Maka layak digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung sebagai preparat kombinasi dengan nafazolin.
Dosis: oral 2-4 x sehari 50-100mg
  • ·         Tripelenamin

Obat ini kini hanya digunakan sebagai krim 2% pada gatal-gatal skibat reaksi alergi (terbakar sinar matahari, sengatan serangga, dan reaksi alergi lainnya).
  • ·         Mepirin

Mepirin adalah derivat metoksi dari tripelenamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin
Dosis: 2-3 x sehari 25mg
  • ·         Klemizol


Klemizol adalah derivat klor yang kini hanya digunakan dalam preparat kombinasi anti-selesma atau dalam salep/suppositoria anti wasir.

Turunan Propilamin
Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya antihistamin yang kuat.
  • ·        Feniramin

Zat ini berdaya antihistamin baik dengan efek meredakan batuk yang cukup baik, maka digunakan pula dalam obat-obat batuk.
Dosis: oral 3 x sehari 12.5-25 mg
  • ·         Klorfenamin

Klorfenamin adalah derivat klor dengan daya 10x lebih kuat, sedangkan derajat toksisitasnya praktis tidak berubah. Efek samping sedativenya ringan. Klorfenamin juga digunakan dalam obat batuk
Dosis: 3-4 x sehari 3-4mg
  • ·         Bromfeniramin

Bromfeniramin adalah derivat brom yang sama kuat dengan klorfenamin, bromfeniramin juga digunakan sebagai obat batuk
Dosis: 3-4 x sehari 3mg


Pertanyaan
1.  Apakah ada hubungan antara struktur kimia dari obat antihistamin dengan kerja antihistamin didalam tubuh ?
2.      Pada gugus apa yang umumnya mempengaruhi kerja antihistamin?
3.      Apakah ada obat antihistamin yang tidak memiliki efek mengantuk ?
4.    Dari antihistamin generasi 1 dan generasi 2, antihistamin mana yang paling banyak digunakan untuk mengatasi alergi ?
5.  Diphenhydramine bisa digunakan untuk mengatasi mata berair dan mata gatal, apakah sudah ada sediaan diphenhydramine untuk mengatasi hal tersebut?

Komentar

  1. Antihistamin sendiri terbagi menjadi dua jenis yaitu generasi pertama dan generasi kedua.

    Generasi pertama. Jenis ini memiliki efek menenangkan. Ketika diminum, ada efek samping umum yang bisa Anda rasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram dan sulit mengosongkan kandung kemih.

    Jenis-jenis antihistamin generasi pertama antara lain clemastine, alimemazine, chlorphenamine, cyproheptadine, hydroxyzine, ketotifen dan promethazine.

    Generasi kedua. Jenis ini tidak memiliki efek penenang. Ketika diminum, efek mengantuk tidak akan sebesar obat generasi pertama. Meski begitu, Anda tetap harus berhati-hati ketika mengonsumsinya sambil mengemudi dan mengoperasikan alat berat. Karena efek mengantuk masih mungkin bisa terjadi. Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama. Efek sampingnya yaitu mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan merasa mual.

    Jenis-jenis antihistamin generasi kedua antara lain fexofenadine, levocetirizine, loratadine, mizolastine acrivastine, cetirizine, dan desloratadine.

    Lantas, jenis antihistamin mana yang terbaik? Semua jenis antihistamin dapat mengatasi reaksi alergi dengan baik asal sesuai dengan alergi yang Anda alami. Sebagai contoh, jika Anda mengalami alergi gatal-gatal pada kulit, Anda bisa mengonsumsi antihistamin generasi pertama. Efek mengantuk dari generasi ini bisa dimanfaatkan untuk membuat Anda tidur pulas walau kondisi kulit sedang gatal.

    Jika Anda bingung menentukan obat antihistamin yang cocok dengan Anda, silakan konsultasikan ke apoteker atau dokter. Obat antihistamin tersedia dalam bentuk resep dan ada juga yang dijual bebas di toko obat. Selain dalam bentuk tablet, antihistamin dikemas juga dalam bentuk kapsul, cair, obat tetes mata dan semprot hidung.

    Obat ini bisa dikonsumsi oleh kebanyakan orang, tapi ada beberapa kalangan yang tidak direkomendasikan mengonsumsinya. Mereka adalah penderita diabetes, asma, epilepsi, gangguan ginjal, penyakit jantung, penyakit hati, dan tekanan darah tinggi. Antihistamin bisa memperburuk kondisi mereka.

    Sebaiknya antihistamin dikonsumsi secara hati-hati dan sesuai petunjuk dokter jika Anda sedang hamil dan menyusui.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan kak hafiza, tetapi saat ini masih banyak digunakan obat antihistamin generasi 1, dimana efek samping sedasi yang ditimbulkan juga dimanfaatkan agar pasien dapat istirahat (tidur) tanpa terganggu rasa tidaknyaman akibat alergi

      Hapus
    2. saya ingin menambahkan jawaban haviza, antihistamin hingga saat ini sudah memiliki generasi ketiga. Yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu feksofenadin, norastemizole dan deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit antihistamin generasi kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi
      ketiga adalah untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolismenya, serta
      menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.

      Hapus
  2. belum menemukan sumber yang menyebutkan obat antihistamin yang tidak menimbulkan efek mengantuk , tapi dari beberapa artikel menyebutkan bahwa obat antihistamin generasi kedua memiliki efek mengantuk yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan obat antihistamin generasi pertama

    BalasHapus
  3. saya akan menjawab soal no 3 ,sudah ad dalamkemasan tablet dengan nama benadryl allergy

    BalasHapus
  4. nmr 4 biasanya di pasaran mnggunakan CTM

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya , petugas kefarmasiaan untuk sekarang lebih menyarankan untuk menggunakan antihistamin generasi kedua mengingat efek sampingnya antihistamin generasi pertama yang lebih besar dari generasi kedua

      Hapus
    2. saya setuju dengan Tania, karena efek AH generasi pertama seperti CTM seperti yang dikatakan oleh Ana menimbulkan efek kantuk yang sangat tinggi sedangkan generasi kedua seperti cetirizine lebih direkomendasikan bagi pasien yang tidak ingin timbul kantuk karena generasi kedua merupaka bentuk farmakofor dari generasi pertama

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Jadi Cetirizine adalah obat golongan antihistamin yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala-gejala alergi, sseperti pilek, hidung tersumbat, mata berair, bersin-bersin, rasa gatal pada mata atau hidung, serta ruam pada kulit.

      Hindari penggunaan hydroxyzine dan levocetirizin untuk mencegah overdosis, karena kedua obat tersebut memiliki fungsi yang hampir sama dengan cetirizine.

      Hindari mengonsumsi minuman beralkohol karena dapat menggandakan efek samping cetirizine.

      Hindari penggunaan cetirizine bersamaan dengan obat penenang karena dapat meningkatkan efek sedasi.

      Hapus
  5. Pertanyaan no.3
    Ada, obat antihistamin golongan generasi II, yaitu alkilamin (akrivastin), piperazin (setirizin), piperidin (astemizol, levokabastin, loratadin, terfenadin, dan fleksofenadi) dan lainnya, yaitu siproheptadin.

    Daftar Pustaka
    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  6. Point nmr 2. Gugus yang mempengaruhi pada antagonis H1 Yaitu gugus aril yang bersifat lipofil kemungkinan membentuk ikatan hidrofob dengan ikatan Reseptor 1.

    BalasHapus
  7. 3. sebagian besar AH memiliki efek sedasi, AH1 memiliki efek sedasi yang eih besar dari pada AH2 dan AH3

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya setuju dengan kak yanti, AH1 memiliki efek sedasi lebih besar dari pada AH2

      Hapus
  8. 4. yang banyak digunakan adalah AH generasi 2, yaitu cetirizine.
    Antihistamin yang saat ini menjadi perhatian para klinisi dan lebih mulai dipertimbangkan dalam penggnaan klinis adalah Cetirizine yang merupakan antihistamin yang sangat kuat dan spesifik. Cetirizine merupakan antagonis reseptor histamin-1(H1) generasi kedua yang aman digunakan pada terapi alergi. Selain mempunyai efek antihistamin, cetirizine juga mempunyai efek antiinflamasi. Efek antiinflamasi cetirizine terutama ditunjukkan melalui penghambatan kemotaksis sel inflamasi. Efek antiinflamasi cetirizine juga tercapai melalui penghambatan ekspresi molekul adhesi yang berperan dalam proses penarikan sel inflamasi.

    BalasHapus
  9. 3. antihistamin generasi kedua sulit menembus sawar darah otak sehingga
    reseptor H1 sel otak tetap diisi histamin, sehingga efek sedatif tidak terjadi. Oleh karena itulah
    antihistamin generasi kedua disebut juga antihistamin non-sedatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Contoh AH 1 generasi kedua yaitu cetirizine

      Hapus
  10. antihistamin hingga saat ini sudah memiliki generasi ketiga. Yang termasuk antihistamin generasi ketiga yaitu feksofenadin, norastemizole dan deskarboetoksi loratadin (DCL), ketiganya adalah merupakan metabolit antihistamin generasi kedua. Tujuan mengembangkan antihistamin generasi
    ketiga adalah untuk menyederhanakan farmakokinetik dan metabolismenya, serta
    menghindari efek samping yang berkaitan dengan obat sebelumnya.

    BalasHapus
  11. untuk jawaban nomor 4. ctm (generasi1) dan cetirizin (generasi2) sering digunakan tetapi cetirizin lebih dianjurkan karena mempunyai efek samping yang lebih sedikit.

    BalasHapus
  12. obat antihistamin golongan ke 2 biasanya tidak memiliki efek mengantuk yang lebih besar atau sama sekali dari golongan 2 seperti, levocetirizine, loratadine, mizolastine acrivastine, cetirizine, dan desloratadine.

    BalasHapus
  13. saya akan mencoba menjawab soal no. 3
    ada, Untuk menghilangkan atau meminimalkan efek sedasi maka senyawa harus mempunyai kelarutan dalam lemak yang rendah pada pH fisiologis, dan bekerja terutama di H1 perifer disbanding pada reseptor pusat. Contoh senyawa yang memenuhi kriteria di atas antara lain adalah:
    1. Terfenadin (Hiblorex, Nadane), merupakan antagonis-H1 selektif yang relatif tidak menimbulkan efek sedasi dan antikolinergik.
    2. Akrivastin (Semprex), senyawa analog tripolidin yang mempunyai lipofilitas lebih rendah karena mengandung gugus asam akrilat. Penurunan lipofilitas menyebabkan senyawa sulit menembus sawar darah otak, sehingga tidak menimbulkan efek samping sedasi.
    3. Astemizol (Hismanal, Scantihis), adalah antagonis-H1 yang kuat dan relatif tidak menimbulkan efek penekan sistem saraf pusat (sedasi) karena tidak mampu menembus sawar darah-otak.

    BalasHapus
  14. saya akan menambahkan jawaban no 4
    menurut saya antihistamin generasi 1 lebih banyak digunakan
    karena Antihistamin tipe H1 digunakan untuk terapi pruritus pada penderita dermatitis atopik. Efeknya berhubungan dengan menekan ansietas dan sedasinya. Pruritus yang disebabkan hal lain, seperti dermatitis kontak alergi dan bentuk lain dermatitis, liken planus, gigitan nyamuk dan pruritus yang terjadi sekunder karena penyakit lain atau yang bersifat idiopatik, juga dapat dihilangkan dengan penggunaan antihistamin tipe H1. (Fitzpatrick)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASAS-ASAS PERANCANGAN OBAT

Identifikasi Farmakofor